Sertifikat ISO 9001:2008 yang dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi menjadikan rekomendasi bahwa organisasi/perusahaan sudah mempunyai sebuah sistem manajemen mutu yang berstandard internasional. Pencapaian tersebut tentunya belum menjamin bahwa output maupun outcome dari produk yang dihasilkan telah mencapai derajat kepuasan pelanggan yang telah dipersyaratkan. Pertanyaannya adalah apakah dengan diperolehnya sertifikat tersebut organisasi/perusahaan sudah menghasilkan sebuah produk bermutu?
Saya menganalogikan sebuah sepeda (maklum cyclist he he he…) seluruh komponen-komponen sepeda adalah sebuah standar persyaratan. Ketika komponen-komponen tersebut sudah dirakit tentunya akan disebut sebagai sepeda, dan layak untuk direkomendasikan sebagai alat transportasi yang di sebut sepeda. Sebutan sepeda inilah yang disebut dengan sertifikasi. Pertanyaannya lagi? Apakah sepeda tersebut sudah bisa dipakai untuk city bike, sepeda balap,folding bike, MTB, atau bahkan downhill bike? jawabannya tentu tergantung dari teknis menggunakan spesifikasi komponen dan juga si pengendara sepeda tersebut
Sebagai sebuah standard intenasional yang sudah banyak diaplikasikan di seluruh dunia tentunya tidak perlu dipertanyakan tentang efektif dan efisiensinya standar tersebut, apalagi dengan pendekatan proses standard tersebut selalu dilakukan revisi yang berkesinambungan mulai tahun 1994, 2000, dan terakhir tahun 2008. Beberapa mitra saya selalu bertanya, kok sistem manajemennya mulai dari diperoleh sertifikat hingga sudah dilakukan surveillance audit tidak mengalami perubahan yang lebih baik bahkan lebih ironisnya menjadi menambah beban pekerjaan?
Layaknya ada sebuah keluarga yang terdiri dari 3 bersaudara, seringkali kita bertemen/dekat hanya dengan salah satu dari 3 saudara tersebut, kita lupa bahwa 3 bersaudara tersebut adalah sebuah kesatuan. Salah satu dari saudara dalam membangun sistem manajemen mutu adalah ISO 9004:2000. Kalau mencermati klausul demi klausul dalam standar tersebut kita akan mendapatkan pedoman bagaimana organisasi/perusahaan meningkatkan sistem manajemen mutunya. Secara garis besar terreflesikan dalam skema sbb:
Supplier ==> organization ==>customer (interested parties)
Tulisan saya ini sekedar mengingatkan tentang pentingnya penggunaan sebuah standard yang terintegrasi dalam setiap seri standard yang diterbitkan ISO, sehingga hasil penerapannya dapat mencapai tujuan yang kita inginkan. ISO 9001:2008 hanyalah sebagai salah satu alat peningkatan mutu. Keluaran dari sistem manajemen mutu tersebut tentunya tergantung dari bagaimana organisasi menjalankan 8 prinsip manajemen mutu secara konsisten. 8 prinsip tersebut adalah:
-
Fokus pada Pelanggan
-
Kepemimpinan
-
Keterlibatan Personel
-
Pendekatan Proses
-
Pendekatan sistem untuk Pengelolaan
-
Peningkatan Berkesinambungan
-
Pembuatan Keputusan Berdasarkan Fakta
-
Hubungan saling menguntungkan dengan pemasok




